Showing posts with label Film Indonesia Tahun 2000. Show all posts
Showing posts with label Film Indonesia Tahun 2000. Show all posts

Saturday, January 26, 2013

Pencarian Terakhir [2008] - Film Indonesia


Biasanya, film Indonesia yang bagus dan bermutu—bukan karena box office, selalu rilis dalam versi home video lumayan lama. Gak tau deh alasannya. Entah disengaja atau emang ada something apaan.

Di postingan tahun lalu gue sempet bikin list film yang gak beredar dalam bentuk kepingan disc. Tapi gataunya muncul juga meski memakan waktu lama. Bahkan sempet ditafsir gak bakalan muncul. Beberapa film yang bermutu itu biasanya gak sempet gue tonton dibioskop. Contohnya kek heart-break.com dan ruma maida yang akhirnya bisa juga gue tonton dan review.

Hari kamis kemaren (20/01/2011), setelah dibikin penasaran karena banyak yang bilang bagus, keren, beda dan kawan-kawan, gue seneng banget ketika nemu info kalo film perdana arahan affandi abdul rahman keluaran tahun 2008 berjudul pencarian terakhir ini rilis juga dalam bentuk DVD. Gak pake lama, gue langsung nyewa di rental terdekat. Ekspetasi gue sebelum nonton tuh campur-campur. Apa iya ada film horror seoke komentar orang-orang yang udah lihat itu? Ya, you know lah kualitas film horror keluaran Indonesia dewasa ini. Kalo nggak nyampah ya makin nyampah. Jadi tanpa harapan lebih, gue tontonlah film ini.

Cerita dimulai dengan keberangkatan Gancar (Tesadesrada Ryza), adik Sita (Richa Novisa) ke gunung sarangan bersama teman-temannya. Meski sempet kuatir, Sita pun mengijinkan adiknya berangkat. Dan keputusan itu baru dia sesali setelah 5 hari gak ada kabar dari Gancar. Padahal Gancar sudah berjanji akan pulang di hari ke empat. Berbekal rasa takut kehilangan seorang adik, Sita bersama teman-temannya, Oji (Alex Abbad) dan Bagus (Yama Carlos) yang mengajak serta Tito (Lukman Sardi), mantan pacar Sita yang dulu juga pernah mengalami keganasan gunung sarangan, berangkat melakukan pencarian. Tentunya dengan bantuan tim SAR setempat, mereka berempat berjibaku menantang medan gunung sarangan yang berat dan menyimpan aura mistis. Apakah Sita berhasil menemukan adiknya kembali?

Dari segi plot tampak seperti skrip drama yang biasanya kita temui di film-film Hollywood. Tapi rupanya penulis skenario menambah unsur mistis khas Indonesia. Bukan, bukan hehantuan narsis kek di film-film horror seksi yang menjamur. Jadi jangan harap ada penampakan pocong dan saingan beratnya, kuntilanak. Atau hantu wanita dengan rambut panjang yang jalannya merangkak a la film jepang. Horror disini lebih ke psikologis tokoh-tokohnya. Gue bilang sih lebih ke thriller psikologis yang cenderung memainkan kedetailan emosi.

Sebagai film layar lebar pertama, affandi abdul rahman terlihat meyakinkan bahwa dirinya adalah sutradara berbakat yang nantinya semoga saja tidak terjebak pakem sutradara Indonesia kebanyakan. dimana lebih mentingin uang doang dengan hasil film biasa atau malah gatot alias gagal total. Cara nge-shoot angle-angle terlihat tegas. Dia juga bisa mengarahkan bintang-bintang difilmnya untuk tampil secara baik dan benar meski akting mereka nggak all out.

Banyak yang memuji akting Richa Novisa. Padahal akting dia biasa aja disini. Emosinya tuh nggak dapet. Masih bagusan akting dia di film heart-break.com yang juga didirect oleh affandi. Meski cuman dapet peran pendukung, gue suka sama karakternya yang judes. Di pencarian terakhir, Richa keliahatan kayak bingung mau ngapain—walau di film ceritanya emang lagi bingung. Tapi disini yang terlihat dia bukan bingung karena adik yang ilang. Tapi bingung dalam menjaga aktingnya yang kelewat berhati-hati.

Jajaran pemain lainnya juga gitu. Seperti alex abbad yang berperan super santai padahal masalah lagi genting, Yama Carlos yang nggak tau dia disini lagi akting atau ngapain, Lukman sardi yang, yah, gue akui dia emang pintar berakting. Tapi setelah disuguhi film-film yang pemainnya dia lagi-dia lagi. Gue jadi lumayan eneg. Lukman bermain lebih baik dari semua. Tapi gue bosen lihat mukanya.

Belum lagi terlalu banyak karakter yang ditampilkan, membuat gue jadi ribet sendiri ngelihatnya. Dari figuran yang tampil prima sampai pemeran pendukung yang annoying dan maksa. Seperti akting teman Gancar yang bernama Ranti. Sumpah, nggak banget aktingnya.

Gue suka sama lokasinya yang ijo royo-royo. Tapi gue rada keganggu sama set yang dipake pas adegan jatuh-jatuh di pinggir jurang. Kok kelihatan banget ya kalo syutingnya dibikin tidur dan diambil dari samping? Hahaha…

Gue nggak suka sama pengeksekusian akhir yang nggak jelas. Dimana nggak diceritakan sosok-sosok gaib yang bertebaran itu siapa-siapa. Atau memang sengaja dibikin gitu kali ya? Namanya juga rahasia alam. Gue juga nggak suka sama ending yang terkesan buru-buru. Dimana diawal kayaknya lama banget dan bikin gue nanya kapan mereka ketemu. Bahkan sempet gue berasumsi kalo tokoh-tokoh yang hilang benernya udah mati. Kayak satu segmen cerita di film horror Thailand 4Bia berjudul “In The Middle”.

Overall, pencarian terakhir terlalu biasa untuk ukuran film lama yang versi home videonya baru rilis.

Rating 5.5/10

http://www.smileycodes.info

Saturday, January 19, 2013

Ungu Violet [2005] - Film Indonesia


dari luar, film arahan rako prijanto ini terlihat sangat meyakinkan dengan membawa nama besar dian sastrowardoyo dan judul yang aneh namun terdengar ear catching. tapi kalau diteliti lebih dalam lagi, film ini ternyata mempunyai borok. hingga akhirnya bobrok secara keseluruhan.

1. poin pertama menyorot soal sutradara. nggak ada yang salah sama debut rako di layar lebar setelah sebelumnya bermain di film tragedi, eliana eliana dan arisan! dia udah mendirect dengan cukup maksimal. cara dia nge-shoot angle-angle tuh lumayan nge-art, dinamis dan enak dilihat. kekurangannya cuman satu, gagal membuat pemain-pemain di film ini menyatu sama cerita.

2. dian sastro berperan sebagai kalin, cewek lugu penjaga tiket busway yang akhirnya sukses menjadi model papan atas karena pertemuan tak sengajanya dengan lando yang diperankan oleh rizky hanggono. dian sanggup berperan sebagai kalin cuman dari kulit luarnya doang seperti dalam hal berkostum yang memperlihatkan dia cewek lugu lalu berubah jadi seorang yang mempunyai kehidupan glamor. tapi cara ngomong, ekspresi dan kelakuanya tuh masih terlihat seperti cinta di film ada apa dengan cinta? padahal jelas-jelas kalin dan cinta adalah sosok yang berbeda.

pemain lain pun juga begitu. ada rizky hanggono yang saat itu masih pemain newbie alias debutan. dia nggak jelek kok. tapi kurang ekspresif, bahkan saat harus tertawa pun! akting dia tuh sedatar mukanya (ups, sori, sengaja). trus ada gary iskak yang karaternya hampir ditiap film gitu-gitu mulu cuman ganti nama doang. ada pula rima melati yang sukses ganjen banget jadi nenek-nenek. nggak salah kalo dia menang award sebagai best supporting actress di ajang festival film asia pasifik. sedang dian sastro mendapat award sebagai aktris menjanjikan.

ada satu karakter yang menarik disini. adalah tokoh rara yang diperankan sama katinka. dia emang muncul dalam dua scene buat bikin konflik awal dan cerita berjalan. tapi akting nangisnya oke banget. mencuri perhatian.

3. judul filmnya nggak ada hubungan sama sekali dengan cerita. mungkin awalnya emang nggak mempunyai judul karena plotnya menjiplak mentah-mentah music video (mv) penyanyi korea. ungu violet hanya diartikan dari campuran warna kesukaan kalin dan lando. kalin suka warna merah dan lando suka warna biru. jadi jangan heran kalo disepanjang film soal kostum cuman didominasi oleh dua warna itu. dan voila, jadilah judul ungu violet. kasus judul aneh kayak gini juga terjadi di film arahan hanny r. saputra; love is cinta.

4. menyinggung poin ketiga, gue mau ngasih tau hal terparah kenapa film ini harusnya menjadi film sampah, film terburuk dian sastro atau film yang mestinya nggak perlu ada karena malu-maluin banget. gimana nggak anjing kalo dua jam disini adalah pengembangan sebuah mv dari penyanyi korea bernama kiss berjudul because i'm a girl. coba deh, bagi lo yang udah nonton, perhatiin mv dibawah ini sampai habis. dan berspeechless lah. sumpah, parah banget. versi indonesia hanya dirubah beberapa detail dengan penambahan karakter baru. namanya juga bangke, jadi lama-lama kecium juga. yang bikin film juga goblok, mau nyontek kok dari mv terkenal.


5. hal diatas diperparah dengan skenario bikinan om jujur prananto yang picisan dan dangkal. dimana cerita-cerita kek gini bisa terlihat pasaran dengan dialog gombal tentang cinta yang hampir udah pernah dimunculkan dalam novel teenlit-chicklit-metropop, sinetron, ftv dan film layar lebar lain.

6. selain dangkal, banyak juga adegan yang terpaksa dibuat sama om jujur biar seru. tapi buat gue, hello, maksa banget sih? pertama adegan ketika rumah nenek kalin kebocoran. terlihat nenek kalin bingung nyari alat untuk menadahi tetesan air hujan sampe nekat memindahkan air dalam bak ke tempat lain padahal udah tau kalo berat tapi tetep aja keukeuh hingga akhirnya jatuh dan pingsan. apa gunanya gitu ada kalin. kan bisa aja disuruh bantuin angkat gitu. dan scene setelahnya pun terlihat dimana kalin sudah menemukan ember. bahkan mengepel lantai!

pemaksaan kedua terjadi sebelum kalin tertabrak hingga akhirnya menjadi buta karena matanya terkena pecahan gelas yang dia bawa. nah, gelas ini yang jadi masalah. kenapa juga kalin lari-lari ngejar lando sambil bawa gelas. gue kira sih buat lempar lando. tapi ternyata cuman jadi properti supaya akhirnya kalin jadi buta. dan itu belum ada apa-apanya ketika melihat posisi jatuh kalin setelah tertabrak. hei, gimana cara kalo ada orang tertabrak dari depan lalu jatuhnya disamping persis dalam posisi lurus sejajar dengan mobil? seenggaknya kalo emang mau dibikin supaya rada art, dimana di film terlihat efek slow motion, harusnya dipikirin logika-logika cara jatuh setelah ditabrak yang baik dan benar.

at least, sebagai melodrama, ungu violet bisa jadi film terbaik kalo saja bukan dari hasil ngejiplak karya orang lain. dari mv lagi. minimal kalo emang punya niatan kek gitu, dicantumin credit kalo film ini dikembangkan dari mv nya kiss. tai banget lah!

NB: mv model kek gini ternyata juga dijiplak sama video klip lagunya adi 'naff' berjudul cinta memilihmu dengan perubahan detail tapi tetap menceritakan cewek yang buta karena kecelakaan lalu cowok yang mencintai dia menyumbangkan korena mata biar si cewek bisa melihat. sayang, kisah kek gini, cuman bisa terjadi didunia fiksi.

rating: 0.5/10

http://www.smileycodes.info

Sunday, January 13, 2013

Oh Baby [2008] - Film Indonesia


hatching, sebelum mulai membaca review, ada baiknya kalian dengarkan lagu oh baby dari cinta laura. lalu kita nyanyikan sama-sama dengan ketukan 3/4 sambil memperhatikan liriknya. karena tanpa menonton filmnya pun, kita bisa tau gimana efek samping dari film ini. oke, musik, mulai...

jreeeng...

" kau... bikin pusing tujuh keliling, buat aku mabuk kepayang..."
(ini efek pertama, efek kedua kita lihat selesai bacotan gue dibawah ini!)

1. oke, jarang sekali muncul film bertema dance di scene perfilman lokal. sekalinya muncul, malah film dance nggak jelas yang awalnya berjudul olala baby ini.

2. judul dan poster film se-chessy isinya. dengan plot yang diharapkan twist namun sayang, tertebak diawal. diperburuk dengan skenario yang dangkal, komedi slapstik bikin enek, cinta-cintaan nanggung dan dance yang... eh, si cinta laura tuh nge-dance ato lagi gatel gara-gara digigit semut sih?

3. biasanya cassandra masardi hanya kebagian peran jadi scriptwriter, tapi kali ini dia mencoba memulai debut menjadi sutradara dari skenario olahan h. encep masduki.

4. tukang art and properti-nya norak gila. masa iya semua serba kalerpul.

5. gue yakin koreo dance di film oh baby ini bikinnya ngasal. lihat aja scene dance diawal film pas audisi rame-rame. ketika karakter baby datang mengenakan topeng phantom lalu menari sambil mengetuk-ngetukan sepatu di lantai dengan sangat nggak jelas. dan gue shock, ketika penonton terpukau dengan tarian monyet nemu pisang di ethiopia a la cinta laura. hingga membuat seorang panitia kaya bernama wizard terpesona lalu  berkata kalo baby boleh masuk grand final dengan sebuah syarat. ih, coba ah gue juga ikutan nari kayak gitu di depan pejabat dengan harapan dikasi segepok uang hasil korupsi, pasti deh udah kena tendang. hahaha... dan semua itu belum lengkap tanpa acara gue pingsan ketika melihat scene baby latihan di gudang sekolah and of course, acara final dance. sumpah, nggak awesome sama sekali kek seperti kita nonton trilogi dahsyat step up selain tarian norak baby dan zarro.

6. akting semua pemain pas-pasan. terlebih lagi cinta laura. dia disini cuman jual tampang dan aksen bicaranya yang sok bule. pengyen dyeh sekhali-khali guweh pentyok-pentyokin jidat cintha laurar ke tembok biarr kalo ngomong biasya ajha. guweh yang keturnan bule aja gak gityu-gityu amat. *ngomong a la bule kampung*. hehe, pis, cin...

7. ada karakter ketua geng cewek yang, plis deh, cantik dari mana, muka culun gitu mau saingan sama neng cinta. terjadi misscast nih kayaknya. iuww..

8. selain banyak dihubung-hubungkan dengan step up dan high school musical, film ini kentara banget mewesternisasi budara indonesia. and then, jadi seperti teenfilck hollywood kelas tiarap.

9. musik musik di film ini sangat tidak berstamina dan energik. nggak ada nyawa sama sekali sebagai pengisi adegan dance. cuman lagu oh baby yang jadi single penjual terlihat sedikit berbobot. meski koreo untuk lagu ini sangat over jablay.

10. overall, sebuah film khusus anak SD yang doyan warna-warni, cerita ringan seringan kapas dengan aktor dan aktris berwajah enak dilihat tapi bikin enek aktingnya dan pantas tayang sekali aja ditivi. mudah terlupakan. *kecuali kalo logat ngomong cinta manjur meracuni otak para penonton*

and now, back to musik..

" ai don wana lus yu
yes ai wana hold yu
ai don wana mek yu
mek yu sed en mek yu kraii.."

akhir kata, sebagai efek kedua, gue nangis darah liat film ini

rating 0/10

http://www.smileycodes.info

Saturday, January 12, 2013

Titik Hitam [2002] - Film Indonesia


janji adalah hutang.

mungkin seperti itulah gagasan awal yang terbersit di otak sentot sahid sebagai pemilik ide asli dan kemudian di serahkan pada jujur prananto untuk mentransformasikannya dalam bentuk skenario drama berbumbu suspense. dan penjabarannya pun berubah jadi seperti ini:

heru (winky wiryawan) dan retno (aurora yahya) adalah saudara sepupu yang memiliki keistimewaan. heru bisa melihat sosok mahluk halus, sedang retno cuma bisa merasakan keberadaannya. karena merasa senasib sepenanggungan, mereka akrab sejak jaman masih pake merah putih hingga menginjak bangku perkuliahan. hingga tanpa retno sadari, ternyata dia mencintai heru. meski heru sendiri merasa nggak mungkin balas mencintai karena dia dan retno masih mempunyai hubungan darah.

di bangku kuliah, heru menjalin hubungan asmara dengan rianti (endhita) tanpa sepengatahuan retno. hingga kemudian retno tahu dan tak bisa menerima kenyataan itu sampai-sampai mengalami kecelakaan karena depresi.

semenjak itu, hubungan heru dan rianti menjadi tak tenang karena diam-diam heru pernah membuat perjanjian khusus dengan retno: siapa yang lebih dulu meninggal, akan menemui yang masih hidup dan menceritakan perjalanannya setelah berada di alam kematian.

menarik? 

actually titik hitam bukan film dengan cerita kacangan yang sekarang ini bertebaran dengan efek tambalan dimana-mana. poor them, setelah melihat hasil keseluruhan, selain durasi yang serasa bagai setahun lamanya alias bertele-tele, film ini diakhiri dengan ritme yang begitu terburu. mungkin sang sutradara en produser udah merasa terlalu kepanjangan. jadi buru-buru diselsein. masalahnya, mereka lupa mengefisiensi apa yang bertele-tele diawal seperti sub plot sub plot nggak penting. membuat titik hitam terasa sangat membosankan.

dari segi penyutdaraan, debut sentot sahid cukup pintar memanjakan mata gue. meski terlalu mengeksplor tempat kerjanya--IKJ. secara dia dosen disana.

dari segi akting semua pemain berakting lumayan. tapi kalo ngomongin spesial efek. haha... gue gak tau kenapa penampakan hantu-hantunya memaksa pake efek animasi 3D  karena terlihat annoying. nggak serem, yang ada malah pengen muntah. bukankah lebih baik meniru kebiasaan nayato or kk dheeraj yang memakai setan asli manusia dengan beberapa modifikasi dempulan diwajah. entah pake kapas yang dikasi cat merah atau apalah namanya (sepertinya gue lupa kalo nayato atau kk dheeraj belum seeksis sekarang, bahkan asumsi gue, si biang tai alias KKD masih di negaranya). belum lagi, adegan terbang-terbangnya. oke sih sebenarnya, malah jarang liat film terbang-terbang kek gitu (dengan catatan ketika tahun 2002; red) tapi masih kurang halus efeknya. yah, gue bisa maklumi lah kalo masalah ini. mungkin karena dana juga kali ya.

sebagai film yang rilis ketika perfilman indonesia belum seramai sekarang, titik hitam telah gagal menyihir penonton untuk berduyun-duyun ke bioskop. seingat gue filmnya cuman bertahan seminggu lebih dikota gue. dan di jakarta cuman beredar di beberapa bisokop. mungkin dari segi poster yang nggak banget dan menjual nama winky wiryawan doang yang saat itu tengah bersinar gara-gara film jelangkung.

coba aja kalo skenarionya lebih pas dan nggak ngejablay kemana-mana memperpanjang durasi, mungkin film ini bakalan berbeda. apalagi pesan khusus yang ingin disampein sentot sahid bisa saja lebih mudah di cerna. karena judul titik hitam sebenarnya mempunyai maksud tersendiri.

ah, terlalu banyak yang ingin diceritakan dari arti sebuah titik.

2.5/10
http://www.smileycodes.info

Lagi Hot